Kisah Aesha si Hidung Terpotong yang Berjuang Lawan Luka Mental





img
Aesha Mohammadzai (dok: Dailymail)
New York, Wajah Aesha Mohammadzai dengan sisa hidung yang terpotong begitu terkenal saat dijadikan foto majalah Time Agustus 2010. Kini wajahnya seperti sudah normal setelah dipasangi hidung palsu, tapi tidak dengan trauma mentalnya yang begitu dalam.

Aesha adalah salah satu korban kekerasan di era rezim Taliban di Afghanistan. Aesha harus rela hidung dan telinganya dipotong pada usia yang sangat muda sebagai hukuman karena menentang kawin paksa.

Ketika Aesha berusia 12 tahun, ayahnya menikahkan Aesha dengan seorang pejuang Taliban sebagai ganti pembayaran hutang. Namun ternyata keluarga si pejuang terus menganiaya dan memaksanya tidur di kandang bersama hewan-hewan peliharaan keluarga tersebut.

Ketika Aesha berusaha melarikan diri, ia pun tertangkap dan sebagai hukuman, suaminya memotong hidung dan telinganya.

"Ketika mereka memotong hidung dan telinga saya, saya pun pingsan. Namun di tengah malam saya terbangun dan merasakan ada air dingin di dalam hidung saya. Saat membuka mata, saya tak bisa melihat apapun karena semuanya berdarah," ungkapnya seperti dilansir dari dailymail, Senin (21/5/2012).

Dalam keadaan sekarat, Aesha dibuang ke pegunungan oleh suaminya. Dengan tenaga yang tersisa, ia bersusah payah merangkak ke rumah kakeknya. Sang ayah pun membawanya ke fasilitas medis milik AS dan ia sempat dirawat disana selama 10 minggu.

Lalu Aesha dipindahkan ke penampungan rahasia di Kabul dan pada bulan Agustus 2010, ia diterbangkan ke AS oleh Grossman Burn Foundation untuk tinggal bersama keluarga angkat pada usia 18 tahun. Yayasan itu juga menjanjikan Aesha sebuah operasi rekonstruksi untuk hidung dan telinganya. Beruntung Aesha berhasil mendapatkan suaka politik pada 2011.

Aesha datang ke AS tanpa bisa berbicara sepatah kata pun dalam bahasa Inggris, bahkan karena tak pernah mendapatkan pendidikan yang layak di negara asalnya, ia pun buta huruf bahasa ibunya, Pashto.

Sejak tinggal di AS, Aesha menjalani operasi rekonstruksi perintis terhadap hidung dan telinganya serta dipasangi hidung palsu di West Hills Hospital, California milik yayasan kemanusiaan Grossman Burn Center sebagai bagian dari rehabilitasinya selama 8 bulan.

Selama itu, ia tinggal di rumah singgah milik sebuah yayasan amal di New York bernama Women for Afghan Women yang mengasuh dan membantu membiayai pendidikannya.





Namun Aesha menjadi tak bahagia dan perilakunya mengkhawatirkan. Beberapa kali ia ketahuan melemparkan dirinya ke lantai dan membenturkan kepalanya ke tanah, meremas-remas rambutnya dan menggigiti jari-jarinya.

Wali Aesha di yayasan tersebut, Esther Hyneman mengatakan tak ada yang mampu mencegah Aesha melukai dirinya sendiri dan akhirnya Esther pun terpaksa menelepon 911 untuk mendapatkan bantuan.

Karena insiden tersebut, Aesha sempat dirawat di rumah sakit selama 10 hari.

Orang-orang yang dekat dengan Aesha pun telah banyak berbicara tentang perubahan suasana hatinya yang sangat cepat akibat kekerasan yang pernah dialaminya.

Mereka juga mengakui bahwa itu berarti Aesha mendambakan lingkungan kekeluargaan yang erat namun yayasan tak mampu menyediakannya.

Gara-gara itu, operasi plastik Aesha sempat ditunda karena emosinya dianggap belum stabil untuk mengatasi rasa nyeri dan lamanya masa operasi yang dibutuhkan.

Psikolog Shiphra Bakhchi (31 tahun) yang membantu mengobati gangguan kejiwaan yang dialami gadis berusia 22 tahun tersebut percaya traumanya mungkin telah menyebabkan luka mental yang lebih mendalam daripada sekedar luka fisik.

Akhirnya Aesha meninggalkan yayasan itu pada bulan Desember 2011 untuk tinggal bersama Mati Arsla dan Jami Rasouli-Arsala dari Fredrick, Maryland yang merupakan kerabat dari mantan anggota dewan Women for Afghan Women.

Hyneman yang mendapat panggilan sayang 'nenek' dari Aesha mengatakan, "Ketika pertama kali datang kesini, emosinya sangat kacau".

"Tapi saat pergi, dia menjadi manusia yang berbeda. Jadi kami berbahagia jika ia telah berada di tempat yang benar meskipun kami pasti akan merindukannya," kata Hyneman.

Dr. Peter H. Grossman pun berharap mampu memberikan Aesha 'solusi yang lebih permanen' yaitu merekonstruksi hidung dan telinganya dengan menggunakan tulang, jaringan dan tulang rawan yang diambil dari bagian lain tubuhnya.

Aesha kini harus berjuang melawan luka mentalnya yang teramat dalam dan sulit dilupakan. Menurut Dr Grossman setiap kali bercermin Aesha akan teringat lagi traumanya.




Sumber




Share your views...

0 Respones to "Kisah Aesha si Hidung Terpotong yang Berjuang Lawan Luka Mental"

Post a Comment

Categories

Our Partners

 

About Me

© 2010 ada apa??? All Rights Reserved Thesis WordPress Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors.info